Perih yang menyengat di mulut oleh obat kumur tak dihiraukannya karena terbayar oleh efek segar yang didapatnya. Begitu pun seriawan dan gusi berdarah yang kerap dirasakannya -- sejak langganan obat kumur itu -- tidak dihiraukan. Ia hanya mengganti obat kumurnya dengan obat kumur merek lain dan masalahnya pun beres.
Nessa seharusnya tidak hanya beralih ke obat kumur merek lain. Ia seharusnya menghentikan pemakaian obat kumur. Kepala Satuan Medik Fungsional Periodonsia Rumah Sakit Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Ahmad Syaify, mengatakan obat kumur tidak dianjurkan dipakai.
Semua obat kumur, kata Syaify, mengandung antiseptik yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Beberapa obat kumur bahkan mengandung antibiotik yang dapat membunuh bakteri.
Penggunaan obat kumur secara berlebihan akan menguras semua bakteri, baik patogen maupun tidak.
Meski obat kumur berfungsi menghambat pertumbuhan atau membunuh bakteri namun tidak semua bakteri di dalam mulut berbahaya. Bakteri atau kuman tidak sepenuhnya bersifat patogen atau merusak gigi.
Bakteri yang merusak tumbuh dalam plak atau lendir yang menempel terus menerus pada permukaan gigi. Bakteri inilah yang perlu dihambat atau disingkirkan. Tetapi ada bakteri yang berfungsi untuk metabolisme dan fermentasi sisa makanan.
"Bakteri itu flora normal dalam mulut." Sehingga diperlukan keberadaannya. Berkurangnya flora normal, membuat mulut lebih mudah terjangkit jamur (kandidiasis). Akibatnya, lidah, gusi, dan bagian mulut lainnya menjadi berwarna keputihan. Mulut pun akan mudah terinfeksi. Dalam kondisi ini, orang tidak akan terhindar dari bau mulut tak sedap.
Obat kumur juga bisa menimbulkan sariawan dan radang pada gusi seperti yang dialami Nessa. Menurut Syaify, kemungkinan karena bahan kimiawi dalam obat kumur menimbulkan respon hipersensitif atau alergi. "Beberapa orang memiliki alergi terhadap bahan obat kumur." Penyebab alergi bisa berasal dari bahan dari obat kumur.
Beberapa bahan baku obat kumur juga bisa menyebabkan sariawan seperti alkohol yang jamak digunakan. Bahan ini bisa menyebabkan iritasi terhadap jaringan epitel (lunak) pada permukaan rongga mulut.
Selain menimbulkan sariawan, alkohol dalam obat kumur bisa memicu tumbuhnya kanker. Kandungan dalam alkohol, asetaldehid, bersifat karsinogen yakni bisa memicu penyakit kanker. Asetaldehid yang terurai akibat mulut gemar berkumur bisa saja terakumulasi menjadi pemicu kanker.
Alkohol juga dapat meningkatkan permeabilitas sel-sel mukosa. Sel-sel mukosa yang gampang ditembus menyebabkan zat kimia penyebab kanker seperti nikotin dengan mudah masuk ke sel dan mengubah perangai sel-sel normal.
Namun, meski obat kumur itu bisa membunuh kuman dan membuat iritasi jaringan lunak rongga mulut, fungsinya tak bisa menggantikan sikat gigi. Menurut Syaify menyikat gigi bertujuan menghilangkan plak pada permukaan gigi. Plak ini hanya bisa dihilangkan dengan kontak fisik yaitu menyikat gigi. "Berkumur saja tidak bisa menghilangkan." Plak harus dihilangkan karena plak merupakan rumah bagi bakteri patogen. Jika tidak, akan menimbulkan radang pada gigi.
Sebenarnya plak tidak bisa dihilangkan secara menyeluruh. Setelah menyikat gigi, mulut terasa kesat karena tak berlendir. Namun ketika gigi terlumur ludah, plak terbentuk kembali karena plak berasal dari ludah. Menyikat gigi akan memotong kematangan plak.
Plak yang matang mengandung bakteri patogen yang memiliki daya rusak yang kuat. Dalam 24 jam plak bisa matang kembali. Sehingga sangat dianjurkan dianjurkan menyikat gigi tiga kali sehari. "Menyikat gigi dengan benar sudah cukup tak perlu obat kumur." Karena belum tentu ada manfaatnya secara medis.
Adakah manfaat obat kumur? Setelah operasi gigi atau mulut obat kumur diperlukan untuk menghambat pertumbuhan bakteri. Terutama obat kumur yang mengandung antiseptik. "Obat kumur dapat mengendalikan bakteri yang berpotensi masuk lewat luka di mulut," ujar Syaify.
AKBAR TRI KURNIAWAN I BERBAGAI SUMBER
Tidak ada komentar:
Posting Komentar