Minggu, 27 September 2009

Inilah Penyebab Lutut Anda Nyeri

ilustrasiTEMPO Interaktif, Jakarta - Bukannya merasa segar, bagi pria yang sebut saja Mardiyanto, bangun tidur adalah prahara. Maklum, lutut pria berusia 60 tahun itu terasa kaku dan nyeri setelah tidur selama 2-3 jam. Nyeri itu juga timbul saat ia menempuh jarak yang cukup jauh dengan berjalan kaki. Untuk menyiasati deritanya, ia sering memakai obat rematik dan rutin minum vitamin tulang. Namun, lama-kelamaan rasa ngilu tersebut tak bisa ditanggulangi dengan cara seperti itu.

Diagnosis dokter menyebutkan adanya kerusakan sendi pada lututnya itu alias osteoarthritis. Akhirnya Mardiyanto mendapat tindakan operasi Total Joint Replacement. Operasi itu dilakukan buat mengganti permukaan sendinya yang rusak, yaitu dengan menanamkan bahan metal artifisial untuk menopang lutut barunya. Mardiyanto melakukan dua kali operasi di lutut kanan dan kirinya. Salah satunya di Rumah Sakit Internasional Bintaro.

"Di RS Bintaro, dia melakukan operasi lutut kiri dan rehabilitasi," ujar spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi RS Internasional Bintaro, dr Jony Sieman SpKFR, seusai diskusi mengenai penyakit osteoarthritis, Kamis malam lalu. Jony menjelaskan, rehabilitasi Mardiyanto telah berjalan tiga pekan. "Nyerinya memang sudah berkurang, namun cara berjalannya belum sempurna benar."

Osteoarthritis memang tidak sepopuler osteoporosis (pengeroposan tulang). Penyakit ini merupakan proses penipisan tulang rawan sendi, dan termasuk kelompok penyakit degeneratif yang banyak diderita orang lanjut usia. Sendi terdiri atas rawan sendi dan selaput sinovial, serta di luarnya terdapat ligamen, yang menjaga kestabilan, dan otot, yang membuat sendi dapat bergerak sempurna. Menurut spesialis ortopedi RS Internasional Bintaro, dr Andito Wibisono, SpOT, untuk mengetahui tulang rawan sendi sangat mudah. "Jika sedang makan daging ayam, akan terlihat bagian ujung tulang yang mengkilat, begitulah kira-kira bentuk tulang rawan," tuturnya dalam kesempatan yang sama.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan 40 persen dari penduduk berusia di atas 70 tahun di dunia menderita osteoarthritis lutut. Bahkan sebanyak 80 persen penderita mengalami keterbatasan gerak. Tidak mengherankan kalau penyakit ini dinobatkan sebagai penyakit nomor dua yang mengganggu aktivitas seseorang setelah jantung. "Sayangnya, di Indonesia tidak ada angka pasti berapa jumlah penderita osteoarthritis," kata Andito.

Terdapat dua macam tipe osteoarthritis. Pertama osteoarthritis primer, yang terjadi pada mereka yang berusia di atas 45 tahun. Penyebabnya adalah proses penuaan alami, seperti pada kasus Mardiyanto. Osteoarthritis jenis ini menyerang secara perlahan tapi progresif, dan dapat mengenai lebih dari satu persendian. Biasanya menyerang sendi yang menanggung berat badan, seperti lutut, panggul, punggung, leher, dan jari-jari.

Penyebab osteoarthritis primer berhubungan erat dengan faktor usia. Dianalogikan Andito, tulang itu seperti ban mobil. "Bisa gundul kalau semakin tua," katanya. Secara medis, pada usia 60 tahun orang bakal mengalami penggugusan tulang rawan. Karena itu, osteoarthritis tak terjadi di bawah usia 30 tahun. Dokter ramah ini menekankan bahwa usia memang menjadi penyebab osteoarthritis, namun apa yang memicunya belum diketahui secara pasti.

Lalu tipe kedua, osteoarthritis sekunder. Terjadi pada semua umur, dan umum disebabkan oleh trauma yang menyebabkan luka pada sendi. Misalnya patah tulang atau permukaan sendi yang tidak sejajar, yang mengakibatkan bentuk sendi menjadi bengkok, seperti pada kaki berbentuk O dan X. Penyebab lainnya adalah faktor genetik, penyakit metabolis, dan infeksi sendi.

Menurut Andito, perjalanan penyakit ini terdiri atas empat stadium. Pada stadium awal, seperti satu dan dua, pengobatannya dilakukan dengan pencegahan melalui program penurunan berat badan, seperti olahraga yang disesuaikan dengan kondisi osteoarthritis-nya. Lalu bisa pula dengan pemberian obat-obatan, suntikan sendi, dan fisioterapi. Salah satu suplemen makanan yang digunakan untuk terapi penyakit ini adalah Glucosamine dan Chondroitin Sulfat.

Kemudian bila osteoarthritis sudah masuk stadium berat (stadium IV), tidak bisa lagi diatasi dengan obat atau vitamin tulang. Pasalnya, sel-sel permukaan rawan sendi sudah habis. Tindakan yang harus dilakukan adalah arthroplasty atau joint replacement--mengganti permukaan rawan sendi yang rusak dengan permukaan sendi artifisial.

Menurut Jony, untuk osteoarthritis tingkat lanjut, Hip and Knee Joint Replacement merupakan tindakan yang kerap dilakukan. "Biaya totalnya berkisar ratusan juta," dokter berkacamata itu memaparkan. Setelah operasi, pasien akan direhabilitasi. Tujuan utamanya adalah agar pasien memiliki tingkat kemandirian yang optimal dan mendapatkan kembali fungsi persendian, bebas nyeri, dan kualitas hidup lebih baik. "Pulih total itu bisa sampai 6 minggu," Jony menambahkan. L

Enam Gejala Itu
1. Saat beraktivitas, sendi terasa nyeri dan kaku.
2. Pada stadium lanjut, nyeri terjadi sepanjang waktu.
3. Kekakuan sendi lebih terasa setelah bangun tidur pada pagi hari.
4. Jika sendi lutut terserang, akan terasa nyeri saat naik tangga atau jalan mendaki.
5. Jika sendi panggul yang diserang, orang itu akan merasakan nyeri ketika masuk dan ke luar mobil atau saat mengenakan kaus kaki.
6. Immobilisasi karena osteoarthritis menyebabkan tingkat kebugaran menurun, mudah lelah, mengantuk, kurang konsentrasi, gangguan jantung, kapasitas fungsional paru berkurang, dan lain-lain.
HERU TRIYONO

Bukan Sekedar Pertanda

TEMPO Interaktif, Jakarta -Akhir-akhir ini Emilia, 60 tahun merasakan banyak hal ganjil pada wajahnya. Kelopak matanya kerap berkedip sendiri tanpa dikehendakinya. Ia juga juga sering latah mengucapkan kata tertentu berulang-ulang. "Ini sering saya alami tanpa saya sadari." Emilia mengungkapkannya dalam seminar Kedutan pada Wajah di klinik WinLab, Kelapa Gading, Sabtu pekan lalu.

Dokter Toni Sutomo, pembicara dalam seminar itu menjelaskan, kedutan wajah dalam bahasa medisnya disebut involuntary muscle contractions atau gerakan yang timbul begitu saja. Pada bagian wajah ekspresinya bisa dalam dua bentuk yaitu, motor (gerakan) dan suara (vocal).

Yang termasuk dalam kelompok motor ini bermacam-macam. Mata Emilia, penduduk Kompleks Walikota, Kelapa Gading, yang kerap berkedip-kedip itu salah satunya. Kedipan tak dikehendaki itu bisa terjadi pada satu atau dua mata sekaligus. Ada pula yang disebut facial grimacing. Wujudnya seperti pipi yang berkerenyut sendiri, mengekspresikan sesuatu namun pemiliknya tidak bermaksud demikian.

Bisa juga bibir yang bergerak sendiri atau lip bitting dan tongue protrusion. "Orang kebanyakan menyebutnya sebagai lidah yang suka meler-meler," papar alumnus Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia 1973 tahun 1985 itu. Kedutan yang terjadi pada vokal disebut hissing atau berdesis. Tak hanya berdesis tapi juga bicara sendiri (grunting), mulutnya berbunyi (licking), snorting (menghembus atau menghela nafas). "Orang latah juga tergolong dalam kelompok ini." ujar Toni.

Involuntary muscle contractions sebetulnya bukan hanya terjadi di wajah tetapi juga bisa di bagian tubuh lain seperti bahu (shoulder shugging), leher (neck jerking), kaki. Gerakan pada kaki bisa terjadi bila penderitanya tidur. Sebuah penelitian di Amerika Serikat mendapati fakta bahwa kedutan pada wajah bisa terjadi pada anak usia 5-7 tahun.

Kedutan ini kebanyakan terjadi pada keluarga yang orang tuanya sangat disiplin. Anak-anak yang tertekan ini matanya bisa berkedip-kedip terus atau pipinya bergerak-gerak. Prevalensi TICS di Amerika Serikat terjadi pada satu orang dalam 100 anak dan umumnya lebih banyak terjadi pada anak laki-laki. Tapi pada usia dewasa lebih banyak perempuan.

Belum diketahui pasti penyebab TICS. Penyebabnya diduga disebabkan berbagai faktor. Pertama, adanya gangguan emosional. Misalnya khawatir berlebihan yang terpendam lalu tereskpresi pada kedutan. Bisa juga disebabkan iritasi pada syaraf wajah, hingga kemungkinan ada gangguan neuro transmitter pada otak.

"Penyebab lain diduga juga bisa adanya keracunan logam berat," kata Toni. Karena banyaknya kasus kedutan pada wajah bersamaan dengan maraknya industri akibat pembuangan limbah yang tak terkontrol. Limbah yang dibuang ke laut dimakan ikan yang dikonsumsi masyarakat. Ada juga kemungkinan pemakaian zat additif seperti zat pewarna, pemanis dan sebagainya. Menurut refrensi saya Di AS kasus TICS , ADHD (anak hiperaktif), autis marak dalam dua puluh tahun terakhir ini sejalan dengan fenomena di atas," pungkas Toni.

Ada juga yang menduga penyebabnya infeksi lama yang disebabkan kuman tertentu seperti amandel dan typhus. Kuman-kuman ini mengeluarkan sejenis racun yang mengendap. Agar kedutan tidak terjadi lebih sering, Toni menyarankan agar penderita tidak minum kopi atau softdrink. "Kedutan dipicu stres, letih, cahaya yang silau, mengunyah, dan berbicara, gejalanya makin nyata bila yang bersangkutan banyak minum kopi dan softdrink."

Selain mengurangi konsumsi kopi dan softdrink, Toni menganjurkan beberapa latihan. Pertama, latihan relaksasi. Yang termasuk latihan relaksasi ini termasuk berzikir (bagi muslim), melakukan yoga, meditasi, hingga mendiamkan bagian yang bergerak melalui latihan selama berapa waktu dalam sehari (self monitoring).

Pemberian vitamin B kompleks juga bisa membantu. "Vitamin ini sebetulnya bisa didapati secara alami." Orang zaman dulu sering makan beras tumbuk yang kadar vitamin B-nya tinggi. Sekarang, beras tidak lagi ditumbuk. Namun, vitamin B bisa didapat dengan makan kacang-kacangan, sereal, hingga hati.

Terapi medis pun bisa. Terapi botoks, micro surgery dan akupuntur adalah beberapa di antaranya. Akupuntur bisa merelaksasi. Sedangkan terapi botoks bisa menimbulkan komplikasi alergi pada orang tertentu. Sehingga sebelum terapi dokter harus memastikan pasiennya mempunyai riwayat alergi atau tidak.

IRVAN SJAFARI

Rabu, 23 September 2009

Agar Sperma Makin Joss


Agar Sperma Makin Joss
KOMPAS.com - Sebuah penelitian yang dipublikasi akhir-akhir ini di Jurnal Fertilitas dan Sterilitas menemukan bahwa pria yang mengonsumsi antioksidan (zat aktif yang banyak didapat dari buah dan sayur) memiliki kualitas sperma lebih baik entah gerak, volume ejakulasi, maupun konsentrasi spermanya dibanding mereka yang kerap mengonsumsi daging dan produk susu penuh lemak.
Antioksidan sudah sejak lama dikatakan sebagai zat yang bermanfaat dalam memperlambat proses penuaan, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, melindungi tubuh dari paparan radikal bebas yang mampu merusak sel tubuh sehingga terlindung dari penyakit seperti kanker, artritis, parkinson, dan alzheimer. Dan sekarang dikatakan juga bermanfaat dalam memperkuat sperma
Riset yang dikerjakan oleh beberapa universitas di Spanyol ini meneliti 61 pria, 30 memiliki sperma yang buruk kualtiasnya, 31 bersemen normal. Mereka diberi kesempatan untuk mengonsumsi 93 jenis makanan yang berbeda dan tidak diperkenankan mengonsumsi vitamin/suplemen selama penelitian ini.
Pria yang bersemen normal ternyata diketahui adalah mereka yang mengonsumsi makanan kaya serat, karbohidrat, antioksidan, kaya asam folat, vitamin C, dan licopen dibanding yang semennya buruk.
Kalau begitu, agar meningkat kualitas spermanya, para pria perlu mengonsumsi banyak makanan yang mengandung antioksidan, dong? Ya, jawab Jaime Mendiola, kepala riset dan pengajar di University of Murcia.
Lalu, apa sumber antioksidan yang paling baik? Carrie Bloxson, konsultan gizi dari New York menyatakan agar sebaiknya Anda mengonsumsi suplemen gizi yang origin dan bukan penggantinya. "Saya juga rekomendasikan agar Anda megnonsumsi makanan aslinya daripada suplemen sintentik sehingga tubuh tidak perlu memroses bahan kimia yang dibawanya."
Bloxson merekomendasikan seperangkat zat peningkat mutu sperma pada makanan seperti:
* Asam Folat : bayam, asparagus, dan kacang-kacangan lentil.
* Vitamin C : brokoli, jeruk, stroberi.
* Likopen : tomat, semangka, anggur.

Osteoporosis Ancam Asia


Awas Osteoporosis Ancam Asia!
BEIJING, KOMPAS.com - Osteoporosis di masa-masa mendatang akan menjadi salah satu penyakit serius di kalangan penduduk Asia. Pada tahun 2050, diperkirakan 50 persen dari kasus osteoporosis di dunia akan terjadi di Asia yang menjadi beban ekonomi dan sosial cukup tinggi bagi masyarakat dan pemerintah.
Berdasarkan data yang dikumpulkan dari 14 negara di Asia terlihat bahwa kejadian patah tulang pinggul meningkat dua hingga tiga kali lipat dalam 30 tahun ini. Peningkatan itu terutama terjadi karena asupan vitamin D dan kalsium yang masih rendah dikonsumsi tiap orang di masing-masing negara.
Demikian laporan yang dituangkan dalam The Asian Audit Epidemiology, Costs and Burden Osteoporosis in Asia 2009 yang diluncurkan International Osteoporosis Foundation (IOF) dalam konferensi dunia komunitas peduli osteoporosis di Beijing, Selasa (22/9). Peluncuran data audit soal osteoporosis Asia itu baru pertama kali dilakukan yang antara lain didukung Fonterra, perusahaan produk minuman yang peduli pada isu kesehatan tulang.
Amrish Mithal, koordinator laporan IOF Asian Audit, mengatakan meskipun ancaman besar osteoporosis secara umum semakin tinggi di Asia, penyakit itu belum diakui dan diperlakukan sebagai penyakit yang mengakibatkan beban ekonomi sosial yang terus meningkat. Dengan peningkatan penduduk usia lanjut yang besar di Asia, sebanyak 50 persen kasus patah tulang yang mengakibatkan kecacatan hingga kematian akan terjadi di Asia pada tahun 2050.
"Ancamanan osteoporosis sudah nyata, tetapi sampai saat ini masih diabaikan jika dibandingkan dengan penyakit lain. Program pencegahan yang dapat mengurangi jumlah penderita patah tulang juga masih minim. Data prevelensi osteoporosis terbatas, ditambah rendahnya kesadaran dokter dan masyarakat, mengakibatkan ancaman osteoporosis tidak diperhatiakn serius," kata Ambrish yang juga Presiden Perhimpunan Penelitian Tulang dan Mineral India.
Bukti-bukti peningkatan osteoporosis itu, misalnya terlihat di Hongkong. Dalam empat dekade terakhir, penderita patah tulang pinggul naik hingga 300 persen. Di Singapura peningkatan terjadi hingga 500 persen. Di Jepang, jumlah penderita patah tulang di kalangan penduduk berusia 75 tahun meningkat secara drastis dalam 12 tahun ini. Di daratan China, sebanyak 70 juta penduduk berusia 50 tahun ke atas menderita osteoporosis, yang berarti ada 687 ribu penderita setiap tahun.
Indonesia yang memiliki sekitar 237 juta penduduk akan memiliki 71 juta penduduk berusia lebih dari 60 tahun pada tahun 2050. Berdasarkan hasil pengujian menggunakan mesin DXA, diperkirahkan sekitar sebanyak 28,8 persen laki-laki dan 32,3 persen sudah osteoporosis. Dari laporan Perhimpunan Osteoporosis Indonesia, sebanyak 41,8 persen laki-laki dan 90 persen perempuan sudah memiliki gejala osteoporosis, sedangkan 28,8 persen laki-laki dan 32,3 persen perempuan sudah menderita osteoporosis.
Judy Stenmark dari IOF mengatakan data audit osteoporosis yang baru diluncurkan itu diharapkan bisa diperhatikan pemerintah, praktisi kesehatan, dan masyarakat umum. "Mesti ada tindakan segera untuk mencegah meningkatnya kejadian patah tulang. Ada jutaan orang yang akan menderita jika tidak ditangani serius. Beban itu terutama cukup berat bagi masyarakat di daerah pedesaan atau pedalaman karena penderita sering diperlakukan secara konservatif, hanya dirawat di rumah, tanpa mendapat keuntungan dari operasi dan pemulihan," kata Judy.
Penanganan yang tidak tepat pada penderita patah tulang mengakibatkan kematian lebih awal satu dari lima menderita. Selain itu meningkatkan penderitaan individu, kehilangan produktivitas, dan ketergantungan penuh pada anggota keluarga.
Kajian internasional menunjukkan hilangnya fungsi dan kemandirian di antara pendeita patah tulang. Sebanyak 40 persen penderita tidak dapat berjalan sendiri, sekitar 66 persen masih membutuhkan bantuan setahun kemudian. Karena kehilangan itu, sebanyak 33 persen penderita bergantung pada perawatan patah tulang
Mark Wilson, Regional Managing Director Asia-Middle East, Fonterra, menjelaskan apa yang dilansir IOF hamipr sejalan dengan hasil pemeriksaan kesehatan tulang Anlene. Pengujian kesehatan tulang yang gencar dilakukan Anlene di setiap negara di Asia menemukan sekitar 40 persen yang diperiksa beresiko untuk menderita osteoporosis.
"Dari pemeriksaan itu juga ditemukan asupan Vitamin C jadi masalah. Demikian juga asupan kalsium. Penduduk di Asia hanya memenuhi 50 persen dari asupan mineral yang dibutuhkan tulang itu setiap harinya. Berdasarkan rekomendasi WHO, konsumsi kalsium sebesar 1.000 - 1.300 miligram/hari, tetapi rata-rata di Asia hanya 450 miligram/hari," kata Mark.
Menurut Mark, penanganan penyakit osteoporosis yang mengancam penduduk Asia itu perlu ditekankan pada pencegahan. Karena itu, pemerintah negara-negara Asia mesti menganggap ancaman osteoporosis sebagai masalah kesehatan yang juga perlu mendapat prioritas dalam kebijakan kesehatan.
"Penyadaran akan ancaman osteoporosis haris semakin gencar dilakukan dengan melibatkan masyarakat. Pendidikan juga mesti dilakukan supaya masyarakat tahu bagaimana mencegah osteoporosis yang bisa jadi beban ekonomi dan sosial yang tinggi," kata Mark.

Sariawan, Tak Seremeh yang Dikira



Sariawan, Tak Seremeh yang Dikira
KOMPAS.com - Sariawan merupakan suatu kelainan pada selaput lendir mulut, yang ditandai adanya bercak luka berwarna putih pada dinding mulut atau bibir. Meski kecil dan letaknya tersembunyi di rongga mulut namun sariawan bisa menimbulkan rasa nyeri hebat.
Menurut drg. Ratu Mirah Afifah, GCCLindent, MDSc, staf pengajar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran, Bandung, di dalam rongga mulut banyak terdapat bakteri dan jamur yang bisa menyebabkan sariawan.
Sariawan juga bisa disebabkan karena gangguan keseimbangan tubuh akibat stres, kurang vitamin C, kurang tidur. Faktor lain yang menyebabkan sariawan antara lain kesalahan menggosok gigi, apalagi jika menggosoknya serampangan dan tak hati-hati. Luka di seputar mulut akibat tergigit atau terjatuh juga bisa menyebabkan infeksi dalam bentuk sariawan.
"Pemakaian gigi palsu atau kawat gigi yang tidak pas juga akan membuat jaringan lunak teriritasi sehingga timbul sariawan," papar Ratu. Sebatang rokok juga bisa merusak vitamin C yang ada dalam tubuh, akibatnya seorang perokok lebih mudah terkena sariawan.
Sariawan yang disebabkan oleh faktor lokal infeksi biasanya akan sembuh dalam waktu dua minggu. Akan tetapi, bila luka mirip sariawan tetap menetap hingga berbulan-bulan, bisa jadi itu merupakan tanda penyakit serius, seperti HIV/AIDS atau kanker mulut. "Penyakit gangguan kekebalan tubuh seperti HIV bisa menyebabkan tubuh mudah terserang infeksi, terutama luka dalam mulut," kata Ratu.
Karena itu bila Anda mengidap penyakit sariawan yang tak kunjung sembuh, segeralah berkonsultasi ke dokter untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Ada beberapa cara yang bisa mencegah sariawan, misalnya makan dengan tenang agar bibir atau lidah tidak tergigit. Luka di kedua tempat itu lambat penyembuhannya sehingga mudah terkena infeksi bakteri atau kuman di mulut. Pastikan gigi dan mulut selalu terawat, berkumurlah dengan antiseptik jika ada gangguan sariawan, serta hindari stres.
Perbanyak pula sayuran dan buah-buahan karena banyak mengandung vitamin C, B2, B5, dan asam folat yang sangat bermanfaat mencegah sariawan.