Minggu, 27 September 2009

Bukan Sekedar Pertanda

TEMPO Interaktif, Jakarta -Akhir-akhir ini Emilia, 60 tahun merasakan banyak hal ganjil pada wajahnya. Kelopak matanya kerap berkedip sendiri tanpa dikehendakinya. Ia juga juga sering latah mengucapkan kata tertentu berulang-ulang. "Ini sering saya alami tanpa saya sadari." Emilia mengungkapkannya dalam seminar Kedutan pada Wajah di klinik WinLab, Kelapa Gading, Sabtu pekan lalu.

Dokter Toni Sutomo, pembicara dalam seminar itu menjelaskan, kedutan wajah dalam bahasa medisnya disebut involuntary muscle contractions atau gerakan yang timbul begitu saja. Pada bagian wajah ekspresinya bisa dalam dua bentuk yaitu, motor (gerakan) dan suara (vocal).

Yang termasuk dalam kelompok motor ini bermacam-macam. Mata Emilia, penduduk Kompleks Walikota, Kelapa Gading, yang kerap berkedip-kedip itu salah satunya. Kedipan tak dikehendaki itu bisa terjadi pada satu atau dua mata sekaligus. Ada pula yang disebut facial grimacing. Wujudnya seperti pipi yang berkerenyut sendiri, mengekspresikan sesuatu namun pemiliknya tidak bermaksud demikian.

Bisa juga bibir yang bergerak sendiri atau lip bitting dan tongue protrusion. "Orang kebanyakan menyebutnya sebagai lidah yang suka meler-meler," papar alumnus Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia 1973 tahun 1985 itu. Kedutan yang terjadi pada vokal disebut hissing atau berdesis. Tak hanya berdesis tapi juga bicara sendiri (grunting), mulutnya berbunyi (licking), snorting (menghembus atau menghela nafas). "Orang latah juga tergolong dalam kelompok ini." ujar Toni.

Involuntary muscle contractions sebetulnya bukan hanya terjadi di wajah tetapi juga bisa di bagian tubuh lain seperti bahu (shoulder shugging), leher (neck jerking), kaki. Gerakan pada kaki bisa terjadi bila penderitanya tidur. Sebuah penelitian di Amerika Serikat mendapati fakta bahwa kedutan pada wajah bisa terjadi pada anak usia 5-7 tahun.

Kedutan ini kebanyakan terjadi pada keluarga yang orang tuanya sangat disiplin. Anak-anak yang tertekan ini matanya bisa berkedip-kedip terus atau pipinya bergerak-gerak. Prevalensi TICS di Amerika Serikat terjadi pada satu orang dalam 100 anak dan umumnya lebih banyak terjadi pada anak laki-laki. Tapi pada usia dewasa lebih banyak perempuan.

Belum diketahui pasti penyebab TICS. Penyebabnya diduga disebabkan berbagai faktor. Pertama, adanya gangguan emosional. Misalnya khawatir berlebihan yang terpendam lalu tereskpresi pada kedutan. Bisa juga disebabkan iritasi pada syaraf wajah, hingga kemungkinan ada gangguan neuro transmitter pada otak.

"Penyebab lain diduga juga bisa adanya keracunan logam berat," kata Toni. Karena banyaknya kasus kedutan pada wajah bersamaan dengan maraknya industri akibat pembuangan limbah yang tak terkontrol. Limbah yang dibuang ke laut dimakan ikan yang dikonsumsi masyarakat. Ada juga kemungkinan pemakaian zat additif seperti zat pewarna, pemanis dan sebagainya. Menurut refrensi saya Di AS kasus TICS , ADHD (anak hiperaktif), autis marak dalam dua puluh tahun terakhir ini sejalan dengan fenomena di atas," pungkas Toni.

Ada juga yang menduga penyebabnya infeksi lama yang disebabkan kuman tertentu seperti amandel dan typhus. Kuman-kuman ini mengeluarkan sejenis racun yang mengendap. Agar kedutan tidak terjadi lebih sering, Toni menyarankan agar penderita tidak minum kopi atau softdrink. "Kedutan dipicu stres, letih, cahaya yang silau, mengunyah, dan berbicara, gejalanya makin nyata bila yang bersangkutan banyak minum kopi dan softdrink."

Selain mengurangi konsumsi kopi dan softdrink, Toni menganjurkan beberapa latihan. Pertama, latihan relaksasi. Yang termasuk latihan relaksasi ini termasuk berzikir (bagi muslim), melakukan yoga, meditasi, hingga mendiamkan bagian yang bergerak melalui latihan selama berapa waktu dalam sehari (self monitoring).

Pemberian vitamin B kompleks juga bisa membantu. "Vitamin ini sebetulnya bisa didapati secara alami." Orang zaman dulu sering makan beras tumbuk yang kadar vitamin B-nya tinggi. Sekarang, beras tidak lagi ditumbuk. Namun, vitamin B bisa didapat dengan makan kacang-kacangan, sereal, hingga hati.

Terapi medis pun bisa. Terapi botoks, micro surgery dan akupuntur adalah beberapa di antaranya. Akupuntur bisa merelaksasi. Sedangkan terapi botoks bisa menimbulkan komplikasi alergi pada orang tertentu. Sehingga sebelum terapi dokter harus memastikan pasiennya mempunyai riwayat alergi atau tidak.

IRVAN SJAFARI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar